Galau Elegan.

Ungkapan emosi ini tidak lagi hanya menjadi pengungkapan muda-mudi saat putus cinta, bahkan lebih daripada itu seperti halnya saat tak diterima di sekolah impian, tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan atau persoalan- persoalan pelik yang tak lekas menemui titik temu. Banyak pengertian ataupun definisi dari kata “galau” ini, selayaknya dalam kamus KBBI yang mengartikan galau sebagai pikiran yang sedang kacau, dalam ilmu psikologi memasukkan emosi ini dalam rumpun anxiety (kecemasan) yang hal ini menjadi sesuatu yang lumrah bagi setiap manusia, jika dalam porsi yang sewajarnya. Para ahli psikologi mengungkapkan bahwasannya galau merupakan hasil dari aktivitas otak yaitu ketika otak memikirkan suatu hal dan seseorang itu tidak bisa membendungnya atau mengendalikannya sehingga mempengaruhi perasaan dan pola laku nya. Galau atau perasaan berkecamuk ini hadir seiring munculnya suatu peristiwa besar yang memilukan dan menurutnya sangat membebani pikirannya. Galau ini ada karena seringnya kita memaknai suatu kejadian dengan mengedepankan emosi semata tanpa berpikir dahulu, padahal sangat diperlukan untuk memikirkan suatu hal yang hadir dengan pikiran yang jernih dan terkontrol, hal ini memang cenderung sulit dilakukan tersebab kita terbiasa menghadapi suatu kejadian dengan emosi-emosi negatif dan diikuti pula dengan konstruksi lingkungan toxic yang memang dalam pemberian informasi sedari dini hingga dewasa selalu disunguhkan dengan cara penyelesaian yang salah. Kegalauan ini jika dibiarkan berlarut- laut akan menyebabkan hal yang fatal tersebab galau ini hanya membawa seseorang pada ilusi- ilusi yang dibuatnya seolah nyata, bermain-main dalam angan seakan semua permasalahannya bisa selesai dengan mengimajinasikannya sehingga banyak orang yang merasakan galau cenderung mengesampingkan perencanaan terhadap solusi. Mereka hanya berlarut-larut dalam mengembangkan emosi negatif yang justru berimbas buruk pada dirinya seperti munculnya stress dan depresi. 
Islam memandang galau ini dengan keadaan jauhnya hati seseorang dari mengingat Allah SWT, hati yang cenderung sibuk memikirkan duniawi dan mengabaikan ukhrawi. Padahal jelas- jelas ketentraman yang abadi bisa diraih ketika seseorang mampu menomor satukan Allah SWT ketimbang hal- hal lainnya. Semua manusia wajar mengalami perasaan seperti ini, tidak mengecualikan juga Rasulullah SAW. Akan tetapi, yang menjadi pembeda manusia sekarang dan Rasulullah yaitu dalam kadar galau dan hal yang digalaukan. Sebab Rasulullah sendiri tidak pernah menggalaukan hal yang bersifat keduniawiaan. Pernah suatu ketika dalam kisahnya sesaat beliau sedang melakukan perjalanan hijrah bersama Abu bakar di dalam gua tsur, beliau sangat merasa khawatir dan cemas dengan kejaran kaum musyrikin. Kemudian, Allah SWT menurunkan surat at-taubah ayat 40 “Janganlah kau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami”. Selain daripada itu pernah juga beliau mengalami kegalauan setelah sekitar 6 bulan lamanya tidak mendapatkan wahyu dari Allah. Beliau berpikir bahwasannya Allah melalaikannya dan tidak ingin lagi menganggapnya sebagai Nabiyullah dan dalam keadaan ini pula kaum musyrikin mengolok-oloknya yang itu membuat hatinya semakin sedih dan cemas. Akan tetapi begitu Maha Penyayangnya Allah, satu-satunya dzat yang mampu menghibur hamba tercintaNya dengan keindahan ayat-ayatNya. Allah SWT menurunkan Surat Adh-dhuha sebagai penggembira hati kekasih tercintaNya Rasulullah SAW. Allah SWT bersumpah bahwasanNya tidak pernah meninggalkan Rasulullah dan tidak pula membecinya, kabar ini yang membuat Rasulullah amatlah riang gembira. Kemudian Allah SWT juga menegaskan betapa akhirat adalah sebaik-baiknya tempat dan segala kehiruk-pikukan dunia adalah fatamorgana “mata’ul ghurur” yang kesenangannya sangatlah menipu, yang ketika dikejar maka tak pernah merasa puas meskipun harus berlelah lelah. Dapat diambil makna yaitu “untuk apa menggalaukan perihal dunia?” padahal itu tidak pernah berarti apa-apa.  Selain dari pada itu banyak hal yang bisa dipetik dari setiap penggalan- penggalan ayat pada surat ini,seperti tata cara untuk menyirnakan kegalauan dalam diri kita. Yaitu sebagaimana Allah SWT menjelaskan pada penggalan ayat 6-8 yang dapat diambil makna bahwa ketika kegalauan itu datang maka yang harus dilakukan kita yaitu memikirkan hal-hal baik, hal- hal positif, anugerah serta nikmat-nikmat yang telah Allah SWT limphakan kepada kita. Pikiran-pikiran mengenai hal positif inilah yang membuat kita seperti termotivasi kembali, bahwa sungguh musibah ini hanyalah sekecil debu ketimbang kenikmatan yang telah Allah SWT limpahkan kepada kita semua. Allah SWT sangat menyukai hamba-hambaNYa yang memberikan bekas dari nikmat yang Ia limpahkan, maksudnya yaitu memanfaatkan nikmat yang Ia berikan dengan cara yang baik seperti saat diberikan harta maka diinfakkan, diberi keleluasaan ilmu berarti disampaikan pada orang lain. Hal-hal sesederhana dalam berbagi ini membuat kita lebih menyadari betapa “kegalauan” yang kita rasakan tidak pernah berarti apa-apa ketimbang jutaan hingga milyaran nikmat yang telah Allah SWT berikan semenjak kita lahir hingga sekarang. Yang perlu diamalkan lagi yaitu, perbanyak dzikrullah. Betapa banyak ayat yang membahas bahwasannya Allah SWT tak pernah meninggalkan kita dalam kondisi apapun, terkadang ujian, kesedihan yang kita rasakan adalah bukti betapa rindunya Allah SWT pada kita. 
Jadikan kegalauan kita sebagai ajang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebab sebesar apapun masalah yang menimpa kita jika Allah SWT ridho maka segala urusan itu akan selesai. Kadang kita hanya sering dimanipulasi dengan pemikiran- pemikiran kolot kita terhadap suatu permasalahan. Menjadikan setiap masalah yang kita hadapi adalah suatu permasalahan yang besar dan tak ada yang mampu menyelesaikannya. Padalah masalah itu hadir justru karena kita mampu untuk menyelesaikannya, justru masalah “besar” yang hadir di kehidupan kita tak pernah bernilai apa- apa dengan Kuasa Allah SWT. 

Komentar

Postingan Populer