Sorai Pejalan
Sadarkah kita terlalu naif memahami hidup?
Menggambarkannya selaras dengan celetuk bocah.
Dangkal tak bermakna apa- apa.
Sadarkah kita terlalu auran menyelami hidup?
bertindak sesukanya tanpa ada batas.
Sejenak riuh bermandikan gelak tawa, sejenak lagi rimbun bersedih.
Hidup adalah perjalanan. Ombang ambingnya. Gemelutnya. Begitupun sedu sedan dan suka rianya.
Dia yang berjalan tanpa dosa, mengaku akukan diri yang justru berlumur najis. Tak pernah menyadar memang.
Kemudian, tak khayal bertingkah seakan Yang Kuasa tak pernah mengamati.
Apakah pernah sejenak memahami bahwa perjalanan selalu menuai akhir?
Apakah pernah tersadar bahwa pejalan selalu memiliki tempat pulang?
Sibuk, terlalu sibuk memikirkan esok.
Berpikir keras pada tumpukan tugas yang tak lekas usai diakhir waktu lembur. Tanpa sedikitpun menanggalkannya untuk sejenak menghadapNya.
Ramai menyelami gemerlap bangunan berlumur kenistaan.
Berbahagia dengan seduhan seduhan yang paling hina.
Menyelam semakin dasar. Sampai ketuk relung bathin tak sedikitpun menyadarkannya.
Pejalan selalu ingin pulang.
Pejalan selalu tahu tempat yang dituju.
Pejalan selalu rindu untuk berjumpa.
Berjumpa Dia yang selama ini mendambakan.
Dia yang selalu mengamati arah pejalan.
Dia yang tak pernah meninggalkan pejalan jatuh.
Dia yang selalu menemani. Meski samar.
Sorailah pejalan yang enggan memikirkan kehidupan sementaranya.
Sorailah pejalan yang tiap langkahnya menyebut keagunganNya.
Sorailah pejalan yang kemelut bibirnya tak lekang dari mengingatNya.
Sorailh pejalan yang tubuhnya tak tersentuh dengan nista tersebab takutnya akanNya.
Sorailah pejalan!
Komentar
Posting Komentar