Cerdas gak si gue?
Assalamualaikum,,
udah lama banget gue duain platform nulis ini. jadi, niatnya gue mau move on dari bucin-bucinan. Dan platform ini yang masih anti dari bucin. hehe
oke, lanjut aja deh ke hal yang perlu gue omongin. (menurut gue sih perlu)
Tulisan ini berawal dari chat temen gue, yang intinya disitu si doi bilang "enak mah lo kelompokan ama dia dan dia, kan mereka pinter" ke salah dua temen gue. Auto dong temen sekelas gue ngecibir si doi, Intinya mah bilang kalo semua anak kelas itu pinter dan si doi nih ngerasa tersudutin (mungkin). Disitu emang gue gak ambil komen dengan omongan doi, ya udah tau aja emang sikapnya mah gitu. hehe. akhirnya gue pengen banget bahas hal itu ke platform ini, ya sekedar membuka cakrawala biar stereotip-stereotip kayak begituan itu gak menjamur sampe ke anak-cucu kita. so, kita lanjut bahas aja ya!
APASIH KECERDASAN ITU?
Pertama kita bakal bahas apasih kecerdasan itu. Kecerdasan merupakan kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Yang menuntut seseorang untuk berpikir yang dapat diukur secara kauntitatif dan kualitatif. Kuatitatif menurut Dusek yaitu proses untuk memcahkan masalah yang dapat diukur dari tes intelegensi, nah sedangkan kualitatif yaitu suatu cara berpikir dalam membentuk konstruk bagaimana menghubungkan dan mengelola informasi dari luar yang disesuaikan dengan dirinya.
Menurut ahli psikologi dunia terdapat tiga macam kecerdasan, yaitu IQ (Intelligent Quotient), ES (Emotional Quotient), SQ(Spiritual Quotient), dan yang baru- baru ini muncul yaitu TQ (Trancedental Quotient). Yang didalamnya memiliki aspek- aspek yang berbeda- beda.
1. IQ (Intelligent Quotient),
Kecerdasan ini muncul sekitaran abad ke- 20 (satu- satunya model kecerdasan yang dikenal pada waktu itu) dikenalkan oleh Alfred Binet, dan menjadi tolok ukur kecerdasan manusia dalam kurun waktu 100 tahun. Kecerdasan ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Jadi, kecerdasan ini bisa berubah terus menerus tergantung lingkungan yang ditempatinya. Indikator kecerdasan ini yaitu pada pengukuran kemampuan matematika- logis, hanya sebatas kemampuan kognitif belaka.
2. EQ (Emotional Quotient)/ EI (Emotional Intelligent),
Kecerdasan ini mendunia sekitaran tahun 1995, gegara bukunya Daniel Goleman "Emotional Intelligent". Sebenernya sebelum itu udah dikonsepin ama si Keith Beasley sekitar tahun 1987. EQ ini terdiri dari kemampuan- kemampuan emosional yaitu: Kesadaran diri, kontrol diri, kemampuan sosial, empati, motivasi.
3. SQ (Spirirtual Quotient)/ SI(Spiritual Intelligent),
Pertama kali dikonsep oleh Danah Zohar pada tahun 1997. Menurut pengonsep kecerdasan ini tidak ada unsur nya dengan agama atau kerohanian seseorang. Ini dibuat agar seseorang bisa memahami kehidupan yang mereka jalani. Tapi, beberapa ilmuwan ada yang mendefiniskan kecerdasan ini sebagaimana kecerdasan kerohanian, penghambaan diri, kedekatan kepada Tuhan, dsb. Ini merupakan puncak dari kecerdasan seorang manusia.
Dulu, manusia memetakan kecerdasan hanya berdasarkan kecerdasan tunggal (kemampuan untuk memcahkan suatu permasalahan) kemudian, munculah sebuah studi yang menyatakan bahwasannya kecerdasan itu tidak tunggal. sekiranya dalam diri manusia tersusun atas tiga komponen yang berbeda. sebagaimana hasil tes IQ yang cenderung hanya menggolongkan manusia berdasarkan kemampuan kognitif dan mengesampingkan kreativitas, karakter, empati, spiritual, dan kemampuan sosial.
Horward Garner yang tidak setuju dengan konsep kecerdasan tunggal dengan proses pengujiannya hanya berdasarkan kemampuan mental dan rentang usia sehingga hanya menghasilkan pula pengkotakan kecerdasan dari idiot hingga genius. Garner berpendapat, bahwasannya tidak ada manusia yang tidak cerdar sebab kecerdasan itu tidaklah tunggal tapi majemuk (MI), Teori ini muncul sekitaran tahun 1983 yang terdiri dari beberapa komponen utama yaitu: kemampuan menyelesaikan masalah yang terjadi dikehiduan sehari- hari, kemampuan untuk menghasilkan persoalan baru untuk dihadapi, kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Menurut Garner, semua orang memiliki kemampuan tersebut akan tetapi dalam pengekspresiannya berbeda-beda.
APA AJA SIH KECERDASAN MAJEMUK?
Terdapat sekita 9 jenis kecerdasan menurut Garner yang dinilai dari aspek perilaku, tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan terhadap sesuatu, kemampuan yang menonjol, reaksi spontan, sikap dan kesenangan terhadap sesuatu tertentu.
1. Kecerdasan Verbal- Linguistik,
Kepekaan terhadap bunyi, struktur, fungsi kata dan bahasa secara oral maupun tertulis. Biasanya orang yang memiliki kecerdasan seperti ini cenderung menyukai permainan kata, membaca, menulis, keteraturan kata dalam argumentasi. Contoh: Sastrawan, Jurnalis
2. Kecerdasan Logis- Matematika,
Kecerdasan yang dipengaruhi dengan kepekaan terhadap pola-pola logis. Memetakan pola sebab- akibat, adanya kecenderungan dalam menghitung, fungsi-fungsi, eksperimen, mencari jalan keluar, berpikir abstrak, dan menggunakan algoritma. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung memiliki pemikiran yang logis, memahami argumen lawan bicara dengan logis. Contoh: Matematikus, progammer.
3. Kecerdasan Ruang (Visual/Spasial),
Kemampuan terhadap penangkapan dunia ruang visual, daya imaji yang tepat. Biasanya menyukai bangun ruang, menyukai dalam membaca chart atau bentuk peta, bentuk design. Seseorang ini cenderung kreatif, kemampuan membayangkan sesuatu, melahirkan ide yang visual dan spasial dan baik dalam identifikasi suatu objek dengan suduut pandang yang berbeda. Contoh: Arsitektur, Pemburu, dekorator.
4.Kecerdasan Musikal,
Kemampuan seseorang dalam menciptakan irama pola titi nada, dan juga warna nada, kepekaan pada ritme, melodi dan intonasi. Manusia yang memiliki kecerdasan ini cenderung efektif dalam penyususnan lirik/ melodi, bernyanyi ataupun memainkan nada pada alat musik. Contoh: Komposer, Singer
5.Kecerdasan Kinestik,
Kemampuan mengontrol gerak tubuh dan pengelolaan terhadap suatu objek, pengekspresian suatu rasa. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu mengendalikan gerak tubuh dengan optimal, keahlian fisik, kekuatan gerak, kefleksibelitasan tubuh.Contoh: Aktor, Atlet, Penari
6.Kecerdasan Interpersonal,
Kemampuan individu dalam mencerna, merespon suasana hati, tempramen, motivasi dan keinginan orang lain. Seseorang yang memiliki kecerdasan ini mampu menyelaraskan keinginan diri dan orang lain, kemampuan berempati yang tinggi dan kemampuan mengendalikan emosi diri. Contoh: Komunikator, Fasilitator.
7. Kecerdasan Interpersonal,
Kemampuan terhadap pengetahuan diri sendiri dan bertindak secara adaptif berdasarkan pengalaman diri, mampu membedakan emosi dan tahu tentang kelemahan dan kekuatan diri. Seseorang pada kecerdasan ini cenderung bisa mengontrol perasaan, mengembangkan keyakikan dalam diri, menyukai waktu sendiri dan pemikir yang ulung. Contoh: Psikolog, Pendoa batin
Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal berkaitan erat dengan EQ/EI seseorang.,
8. Kecerdasan Naturalis,
Keahlian dalam membedakan spesies, mengenali suau eksistensi spesies dan menikmati alam. Seseorang dalam kecerdasan ini cenderung mencintai alam, mengekplorasi alam dan tidak takut terhadap serangga atau hewan. Contoh: Pencinta alam, aktivis lingkungan hidup dan ahli biologi.
9.Kecerdasan Eksistensial,
Kemampuan berpikir terhadap suatu hal yang hakiki termasuk kehidupan. Mampu memetik hikmah pada suatu kejadian dan peka terhadap persoalan mengenai keberadaan eksistensi manusia.
Di atas udah gue singgung mengenai tipologi kecerdasan manusia, penjelasannya singkat banget. Kalo kalian pengen yang lebih mendetail bisalah baca- baca jurnal atau buku yang berkaitan dengan itu. Ok, balik ke topik awal! Pernah ga si kalian denger juga tentang "Orang cerdas tu otaknya gede", atau hal- hal yang semacem itulah. Nah menurut Peneliti dari Austria, Belanda menyatakan bahwasannya ukuran besar otak manusia itu gak ada hubungannya sama sekali dengan kecerdasan seseorang. Kecerdasan otak itu meningkat karena adanya kebiasaan seseorang dalam mempelajari sesuatu. Contohnya nih: si A suka main musik secara terus menerus, nah otomatis saraf yang ada di otak si A akan lebih tebal sambungannya pada titik musik, beda halnya ketika si A tidak melakukan menggambar secara terus menerus (sekali saja) itu membuat sambungan "gambarnya" tipis. Nah, saraf yang tersambung tebal itu yang dinamain Kecerdasan.
Selain kecerdasan memang diturunkan secara genetis, kecerdasan itu bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Gimana pengalaman hidup yang dilalui, dan pendidikan formal sangat bisa mempengaruhi kecerdasan seseorang. Atau bisa kita tarik kesimpulan bahwasanya kecerdasan itu apayang dilakukan seseorang secara kontinyu.
Manusia bisa dikatakan cerdas apabila dapat menyeimbangkan antara EQ,SQ,dan IQ dia punya. Bahkan menurut beberapa penelitian menjelaskan bahwa sumbangsih terbesar pada kesuksesan seseorang ada pada Kecerdasan Emosional yaitu sekitar 80% dan Kecerdasan kognitif 20%.
Masalahnya, orang tua sering banget lebeling terhadap anak- anaknya bahwasannya cerdas hanya melulu soal IQ, dan itupun dalam penjabarannya sangat sempit contoh sekedari rumpun matematika-logis atau linguistik. Padahal, Hal terpentig dari sebuah kecerdasan manusia yaitu EI/EQ yang menuntun manusia bermoral, peka terhadap emosionalitas diri dan yang paling luhur yaitu SQ/SI manusia yang menjadikan manusia tidak semena- mena terhadap suatu hal, bahwasannya ada yang lebih kuasa atas dirinya. So, bisa banget kita simpulin bahwasannya manusia cerdas itu gak cuman yang suka jadi bintang kelas, atau yang ipk nya tinggi. Tapi lebih daripada itu, mereka yang pandai musik, yang pandai gambar, yang suka nulis. Mereka itu cerdas pada bidang-bidang tertentu.
Ya, cukup seginilah ulasan gue. Pasti banyak banget kekurangannya karena ya emang gue sendiri gak concern di dunia psikologi. Ini pendapat gue, dan sekiranya ada yang lebih baik dari pendapat gue bisalah drop di kolom komentar, kita bisa diskusi sama- sama. Seenggaknya nih, para kawula muda enggak buta terhadap hal ini, karena bisa fatal menurut gue kalo mereka enggak tahu akan hal ini dan seenak jidat labelling ke orang lain dengan model pembagian kecerdasan yang sempit banget. Gue cuman gak mau kawula muda buta dengan hal ini dan malah membudidayakan stereotip-stereotip yang salah. Karena menurut gue, stereotip/ labeling pada seseorang itu bisa jadi beban mental. Contoh: Si A ni emang ipk nya gak cakep- cakep banget, tapi dia emang pinter kalo bikin puisi dan karya sastra lainnya trus karena ada si B (temennya) yang buta banget samaa hal ini, trus dia labeling ke si A kalo dia gak cerdas, nah hal ini bisa bikin si A tertekan.
Thank you so much, udah mau mampir baca-baca dikit tulisan gue.
Wassalam!
Komentar
Posting Komentar