YOGYAKARTA,
Berlalu bersama banyak cerita.
Apa sih yang tetiba muncul di benak kalian waktu baca judul blog ini? Atau apa yang terlintas di pikiran kalian saat memandangi lukisan malioboro?. Mungkin akan ada yang menjawab biasa saja, menarik, atau dengan ekspresi lainnya.
Tentu juga dengan aku.
Yogyakarta. Yang hampir berbelas tahun masih menjadi kota impian untuk
ditinggali. Jatuh cinta pada pandangan pertama, ah itu akan menjadi kalimat
yang sangat cocok untuk melukiskan kejadian ini. Awal benih cinta itu muncul
tepat sejak pertama kali kedua kaki ini menapaki kota itu. Entah aku lupa di
tahun berapa atau bahkan di bulan berapa, yang aku masih samar ingat, peristiwa
ini terjadi saat aku masih menginjak bangku Sekolah Dasar, mungkin di sekitar
tahun 2008/ 2009.
Dharma wisata yang
diadakan oleh Sekolah tempat ibu mengajar atau kantor tempat ayah bekerja
semakin membuatku kerap mengunjungi kota itu. Hampir tiap semester kita akan
bertandang ke Yogyakarta, menikmati setiap seluk beluknya dan indah bangunannya.
Bagiku setiap langkah kaki yang terpijak, selalu ada suasana baru yang mengintai. Di mulai dari sejarah Borobudur
hingga desas desus mistis Pantai Selatan, di bumbui dengan hiruk pikuk Malioboro
atau siraman bintang di angkringan, ah manja sekali bukan. Hingga terpahat
dalam hati, sebuah impian kecil yaitu “jadi anak Jogja”.
Tahun hingga tahun terus
saja berganti, rupanya cinta itu semakin kokoh bertengger di pelupuk hati, hingga
di tahun 2010 di saat kakak sepupuku harus masuk salah satu Pesantren di
Yogyakarta, kegirangan di hati mencuat lebih sering berarti akan lebih kerap lagi
untuk membesuk kota itu. Di tahun itu pula segenap harapan lebih berkembang, di
mulai dengan keinginan untuk “nyantri” di Pesantren yang serupa dengan kakak. Tentunya
dengan niat untuk menimba ilmu dan ditambahi dengan niat cadangan yang sangat
kuat “pengen jadi anak Jogja”. (ah, niat yang sangat lucu sekali)
Akhir tahun 2011 rupanya
menjadi saksi bisu perjalanan mempertaruhkan impian. Di akhir tahun itu rupanya
hati tak seramai suara kembang api yang mengudara dan meletup di atas membuah
semburat cahaya api yang indah. Iya, sebut saja jauh dari kata “indah” itu
sendiri. Sebab, akhir tahun itu menjadi awal gagal dalam pertaruhan impian itu.
Aku gagal untuk gelombang pertama placement test di Pesantren itu. Tapi, rasa
di rasa kegagalan itu tidak berarti apa-apa ketimbang iming-iming hiruk pikuknya
Yogyakarta dan title “anak Jogja”. 5 bulan berselang, Pesantren itu telah
membuka kembali placement test untuk gelombang kedua. Dengan gembira hati,
segera saja aku mendaftarkan diri. Mencoba bergulat lagi dengan sepenuh
kemampuan diri, mempertaruhkan harapan itu lewat kertas-kertas ujian. Tidak ada
kata Lelah untuk sekedar menatap buku-buku pelajaran, mengaisnya kembali untuk
diingat dalam pikir, bahkan tiada malam tanpa sujud mengadu. Hingga siang hari
tapat sehari sebelum pelaksanaan ujian itu aku bersama kedua orang tuaku datang.
Hatinya berkelut antara rasa percaya diri dan takut. Percaya diri sebab telah
banyak yang disiapkan dan takut sebab pernah tetolak di beberapa bulan yang
lalu. Di hari pelaksanaan Placement test itu, mataku terbelalak, ternyata peserta
ujian lebih banyak dari gelombang pertama. Nyaliku semakin menciut, tapi bagiku
tak perlulah pesimis sebelum menjajaki. Takut-takut terlihat meremehkan kuasa
Allah SWT. Placement test itu aku lalui dengan baik, baik karena sebagian besar
soal-soalnya bisa ku jawab. Sampai, di detik-detik pengumuman itu tiba, tentu
saja perasaan gulana itu muncul kembali. Dan ternyata….Allah masih berkehendak
lain, rupanya belum bisa “jadi anak Jogja”. Dengan kecewa aku kubur dalam-dalam
mimpi itu, dan terpaksa mengiyakan perintah orangtua untuk masuk Pesantre Putri
di Ponorogo. Ini kejadian pertama yang mengajarkanku bagaimana menyikapi sebuah
gagal, bagaaimaana harus berbesar hati atas kejadian yang tidak sesuai keinginan.
Rupanya, Allah sedang menghantarkanku pada gerbang kehidupan yang sebenarnya,
bahwa kita hanya berhak pada ranah bermimpi dan berusaha namun terlebih dari
itu bukanlah ranah kita. Dan tentunya, selalu ada hikmah kejadian yang luar
biasa, “terpaksa” nyantri ternyata mempertemukanku dengan lingkungan yang tenteram
dengan orang-orang yang hebat nan luar biasa.
Di penghujung masa “nyantri”
di Pesantren Putri, akupun mengikuti sebuah seleksi masuk perguruan tinggi Islam.
Dan tentu saja pilihanku jatuh pada Perguruan tinggi Islam di Yogyakarta. Segala
do’a terapalkan, semoga ini menjadi kesempatan keduaku yang “masuk gol”. Dan,
tentu saja bola itu masuk ke dalam gawang dengan sangat tepat. Ya, benar saja
aku diterima di kampus yang berdiri megah di pelataran Yogyakarta. Aku kegirangan
sekali kala itu, bagaimana tidak impianku selama ini akhirnya bisa terwujud. Seakan
aroma wangi hati yang berbunga-bunga itu menguar ke berbagai sudut menyebarkan
rona positif bagi siapapun, dan tentunya bagi kedua orangtuaku, mereka amat
sangat gembira dengan berita itu merapalkan syukur yang teramat dalam. Hari-hari
di masa menunggu itu kujalani dengan baik, semua dokumen ku persiapkan dengan
rapi, tapi di penghujung tenggat waktu finalisasi berkas, halilintar menyambar pelupuk
benak itu. Tetiba kedua orangtuaku membatalkannya dengan alasan prodi yang aku
ambil kurang tepat, merekapun menyuruhku untuk mengikuti ujian masuk Perguruan
Tinggi di kota Malang, aku meneriman permintaan pembatalan untuk masuk Univ itu
tapi aku masih tetap memelas untuk bisa mengikuti Ujian Masuk PT di Yogyakarta.
Tapi sayang, mereka masih bersikukuh dengan pendapat mereka dan tentunya di
sertai alasan yang lebih logis ketimbang alasanku yang hanya mengejar “Yogyakarta”nya
saja. Lagi-lagi impian itu harus ku kubur dalam-dalam. Mempertaruhkan harapan
yang dibangun sejak lama mungkin berat tapi aku percaya selalu ada hal baik
yang bisa dipetik dari sebuah kejadian kecil seperti ini. sebab, bukan murni
dari kesalahan kedua orangtuaku yang secara sepihak membatalkan finalisasi
dokumen dan menyuruhku untuk mendaftar di Malang. Seharusnya dari awal aku bisa
berkoordinasi dengan orang tuaku mengenai program studi yang akan aku ambil
atau hal lainnya sehingga tidak menimbulkan missing communication atas dua belah
pihak dan bisa sama-sama legawa. Ini menjadi bagian pelajaran yang tak
terhingga dalam memaknai sebuah kejadian dalam hidup. Harus tertolak untuk
diterima, harus terjatuh untuk disanjung.
Nyatanya dalam banyak
gagal itu tak pernah menyurutkan harapan, bahkan semakin banyak harapan-harapan
baru yang tumbuh. Bahkan rasa cinta itu semakin mencuat tajam.
Barangkali, Yogyakarta
kini masih menjadi tempat singgah. Yang riuhnya seketika bisa menghilangkan
penat, yang seluruh bangunannya totalitas menggugahkan semangat. Barangkali,
Yogyakarta sedang mempersiapkan cerita indah baru dalam perjalanan hidupku.
Komentar
Posting Komentar